aktualisasi GURU PAK


AKTUALISASI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

Juddi Wahju


Abstrak
Penelitian ini berjudul: aktualisasi guru pendidikan agama Kristen. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang kompetensi spiritual guru agama Kristen, spiritual berdasarkan pada hakekat Tritunggal, keuatan spiritual, memiliki semanggat panggilan, Yesus juruselamat pribadi guru, pertobatan, hidup baru dan karya Roh Kudus.

Kata kunci : aktualisasi, guru, Pendidikan Agama Kristen


Latar belakang
Peran Guru yang ditulis oleh Sijabat antara lain guru melengkapi anak didik dengan berbagai kebutuhan pengetahuan kognitif  afektif  motorik dan spritual  supaya dapat bertumbuh dan berkembang dengan kuat dan dewasa, dalam peran mengajar guru mengelola kegiatan agar peserta didiknya, guru sebagai pelatih mampu melatih  peserta didik yang berfokus pada pembentukan ketrampilan dasar  menengah dan lanjutan sehingga peserta didik bertumbuh, guru sebagai fasilitator guru menyiapkan berbagai sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan belajar mengajar, guru sebagai motivator hal hal ini sangat mendasar mengingat peristiwa belajar pada prinsipnya berlangsung dalam peserta didik  karena peserta didik mempunyai kemaupun yang timbul dari dalam dirinya, guru sebagai pemimpin guru nempunyai figur otoritas tanpa berprilaku secara otoriter, guru sebagai komunikator  guru memberi laporan penilaian atas kemajuan peserta didik dan pelantara  antara  peserta didik dengan bahan pelajaran. Pendapat para ahli mengisyaratkan betapa penting sebagai seorang guru.
Berdasarkan  apa yang disampaikan oleh para ahli teologi dan pendidikan, masih ada dan sering seorang guru kesulitan untuk melaksanan. Kesulitan itu muncul dari  faktor intern dan exteren dari seorang guru. Faktor  interen  yaitu  kesedianan guru untuk mengabdikan guru pada dunia pendidikan  masih kurang, hal ini dapat dilihat dari keperdulian guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Hal yang paling sederhana dan sering  terjadi, belum adanya simpati terhadap siswa. Guru menyampaikan materi pelajaran hanya sekedar meyampaikan, dan tidak perduli apakah apa yang disampaikan memberi pengetahuan atau tidak, memahami atau tidak yang penting materi sudah diampaikan. Akibatnya siswa akan apatis, tidak semangat untuk belajar, tidak sepenuhnya pikirannya  berfokus pada materi yang disampaikan oleh guru.

Kompetensi Spiritual Guru Agama Kristen

Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Mengutip Arti lain dari kompetensi adalah kemampuan  kecakapan atau keahlian tertentu  yang dimiliki oleh seseorang.  Dengan demikian kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukan kualitas guru yang sebenarnya. Spiritual berasal dari kata latin spiritus yang berarti roh, jiwa, semangat dan dalam bahasa Inggris spirituality dan dalam bahasa indonesia menjadi spiritualitas, spritulias juga sering diartikan hidup saleh dan berbakti kepada Allah.[1]  Apabila spritualias dikenakan pada  manusia, akan   mempunyai arti  seseorang  yang menghayati Roh Allah dalam hidup nyata sesuai dengan panggilan dan peran hidupnya, ia menyerap seluruh nilai spritual dan mengarahkan diri serta hidupnya sehari hari berasakan nilai nilai spritualitas dan menciptakan gaya hidup serta prilaku menurut nilai spritual itu.
Sedangkan Alister Mc,Graht mendevinisikan sebagai berikut:” sprituality concret the quesht for afully and autetich relegius life, involving the bringing together of the edias disticif the of that relegion and the whole expreies of living on the basic of and with him the scope of that relegions”. [2]  Diartikan dalam diterjemahan bebas  mempunyai arti spiritualis mengkonsentrasikan  pencarian kehidupan religius yang menarik dan melibatkan penyatuan bagian  hidup dengan religion itu dan keseluruhan kehidupannya berdasarkan dasar dan dengan lingkup agamanya.
Sedangkan Will fred  menulis bahwa: ”spiritual,  kebutuhan akan rasa aman ini ditekanan dan dibicarakan dalam konteks peperangan rohani, perlindugan dan pemeliharan ilahi. Rasa aman dalam spiritualitas kristen karenanya ditempatkan dan konteks persekutuan yang erat dan ketaatan kepada Allah.”[3]
Intinya spiritualitas kristen harus mengalir dari hati orang orang kristen yang terpanggil untuk menjalani kehidupan agape, mengasihi Allah dengan mengasihi sesama.[4] Secara fenomelogis spiritual diartikan cara hidup yang muncul dari struktur dua komponen dasar yaitu roh dan kata, komponen roh terdiri dari realitas pengalaman dari sifat nonrasional yang sering diungkapkan dalam pengertian transendensi.[5]
Guru pendidikan agama Kristen merupakan seorang yang sudah terpanggil untuk melayani dalam pemberitaan injil melalui proses pengajaran baik di gereja maupun di sekolah.  Sehingga arti kompetensi spiritual guru pendidikan agama kristen  kemampuan seorang guru yang sudah lahir baru dan terpanggil  untuk melakukan transfer pengetahuan tentang Firman Allah dalam proses belajar mengajar.  Pandangan spiritualitas menurut Lidya Yulianti menyebut  spiritualitas merupakan gaya hidup seorang guru PAK sebagai hasil pemahamannya tentang Allah secara utuh. Hal ini dikemukakan mengingat bahwa tugas mendidik bukanlah pekerjaan yang hanya bersifat teknis dan mekanistik. Guru dan peserta didik adalah insan yang memiliki aspek spiritual. Untuk itu spiritualitas guru PAK harus memiliki kepercayaan dan beriman kepada Tuhan Yesus, mengalami buah-buah iman, mengintegrasikan iman dalam kehidupan sehari-hari, mengupayakan pertumbuhan rohani, bertindak dan melayani.

Spiritual Berdasarkan Pada Hakekat Tritunggal

Spritual ini berdasarkan pada hakekat  Allah sebagai Bapa dan pencipta segala sesuatu memiliki karakteristik tertentu. Secara ekologis, hal ini meneguhkan nilai penciptaan,  sebab itu    seluruh ciptaanNya adalah milik Allah dan mencerminkan kemulian Allah, sebab seluruh ciptaan harus dipelihara dan dipakai penuh tanggung jawab. Secara soteriologis kenyatan bahwa semua hal berasal dari Allah meyiratkan bahwa tak ada keterpisahan sama sekali antara dunia fisik dengan dunia rohani. Kebapakan Allah membawa implikasi universal, jika Allah Bapa yang penuh kasih bagi semua orang, maka akhirnya semua orang akan diselamatkan.  Seperti ditulis oleh Federas Randa dalam Teologi Proper bahwa Allah itu tidak pendendam dan jahat, sebab da dalam Alkitab yang menyebutkan Allah itu mengajar dan mendidik umatNya. Pengunaan Bapa yang dimaksud untuk memberikan suatu pemahaman kepada manusia bahwa sebagai Bapa, Ia ingin tetap dekat dan bersama dengan umat manusia dalam suatu persekutuan yang terus menerus sehingga Allah mengajar dan mendidik manusia, bukan berarti Allah itu jahat melainkan untuk memuliakan Allah Bapa begitu mengasihi, menyayangi dan memperhatikan manusia bagaikan seorang ayah yang mengajar dan mendidiknya.
Sebagai guru pendidikan agama Kristen mempunyai  Roh yang sama dengan  Roh Bapa melalui pelantara Roh Kudus  untuk  menjadikan lebih dekat mengasihi siswa siswi didiknya dalam mengajar dan mendidik dalam disiplin Ilmu kususnya dalam mengajar Firman Allah. Demikian juga Roh persekutuan yang ada dalam Bapa dan Anak menjadikan dasar bagi guru untuk mempertahankan persekutuan   dengan muridnya layaknya seperti suatu keluarga. Lebih dalam lagi Ferderas Randa menyatakan buhungan Bapa dengan Manusia yang pernah terjalin telah rusak oleh dosa manusia, tetapi Allah masih mengasihi manusia.
Guru pendidikan agama kristen  dengan hakekat sifat Bapa  mampu menjalin persekutuan dengan siswa dalam kapasitas mendidik dan mengajar meskipun banyak perbuatan perbuatan anak didik  yang melanggar Firman Allah namun guru tetap membimbingnya untuk tidak melakukan pelanggaran lagi. Kekudusan salah satu diantara sifat Bapa, dimana kudus berarti dipisahkan dari segala yang dosa, sehingga kekudusan dapat dikatakan tidak bersekutu dengan dosa. Kekudusan Bapa berhubungan dengan kebenaran danm keadilan–Nya serta dalam kesetiannya.[7]Sifat Allah yang kudus  akan nampak pada Guru PAK yang selalu menjauhkan diri dari dosa, hidup dalam kebenaran dan keadilan dan kesetiannya.
Hakekat sifat Anak berfokus pada karya penyelamatan yang dikerjakan Kristus. Dalam paham injili fokus kristologi adalah Yesus sebagai Juru Selamat. Hal ini menghasilkan spiritualitas yang berpusat pada injil, pengampunan dosa dosa pribadi, kesalehan pribadi yang hangat dan gereja terdiri dari orang orang yang telah membuat pengakuan iman secara pribadi. Fokus Spritual Anak pada penekanan pada pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus secara pribadi  dan iman. Ketika Guru memahami dirinya sebagai seorang Kristen, bahwa seorang Kristen mampu memberi dirinya secara penuh kepada Kristus. Oleh karena demikian sebagai Pendidik Kristen, rela berkorban, dan mampu menjadi pengajar sesuai teladan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus. Guru PAK  ialah orang yang percaya dan menyambut sepenuhnya kedudukan dan peran Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja atas kehidupannya.   Maka kualifikasi rohani guru PAK, mampu merespon dan meneladani kehidupan Kristus dengan sungguh-sungguh dan menumbuhkan diri untuk didiami oleh Roh Kudus, sebagai penuntun dan penolong dalam melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang Guru. Segala kehidupan Guru PAK yang berdasarkan pada Kristus akan mempunyai sifat sfat kenabian, keimaman. Nabi adalah orang yang dipanggil untuk menjadi alat Allah untuk berfirman kepada umat-Nya.[8]  Imam merupakan jabatan yang mempunyai jabatan mempersembahkan korban, mendoakan umat Allah dan memberkati. Jabatan serta sifat  kenabian dan keimaman  menjadi standrat  Guru PAK dalam menghadapi tugas dan tangungg jawabnya sebagai pengajar dan pendidik. Ketaatan merupakan sifat yang ada didalam Anak yaitu Tuhan Yesus Kristus, Tuhan Yesus melakukan apa yang dikehendaki oleh Bapa-Nya yang mengutus dan melakukan tidak melakukan kehendak_Nya sendiri.Maka dalam mengajar pendidikan agama Kristen seorang guru taat pada kehendak Allah untuk menyatakan maksud dan tujuan kepada manusia.
Hakekat sifat  Roh Kudus jika dipahami secara luas mewakili spiritasulias Anak. Jika spiritual Injili merupakan pelaksanaan karunia spritual hidup baru di dalam Kristus. Kuasa   Roh  yang dijanjikan berwujud karunia karunia Roh yang diberikan, karena karunia Roh datang ke dunia untuk memulihkan hidup manusia yang telah dirusak oleh dosa  serta menguduskannya bersama sama dengan bakat bakat. L. Sugiri juga menulis tentang tiga roh yang memberi bisikan pada manusia yaitu :
“ 1)Roh Kudus Allah yang diutus oleh Allah Bapa dan Tuhan Yesus; Ia selalu memberikan inspirasi, bisikan bisikan positif dan mengarahkan hidup manusia kepada pujian bagi Allah dan kebahagiaan dalam Kristus Yesus.2) Roh Manusiawi atau ego yang selalu menimbulkan berbagai pikiran, keinginan, cita-cita harapan, dorongan yang bersumber  pada kesadaran atau pun bawah sadar manusia, entah bersumber pada tubuh manusia sebagai kesatuan kimiawi–bilogis.3) Roh Iblis, Roh kegelapan, roh jahat, bapa segal dusta yang mengacaukan hati dan pikiran manusia dengan bisikannya untuk menjauhkan diri dari Allah berupa janji janji manis kepada manusia.....”[9]

Seorang Guru PAK  yang disertai Roh Kudus mampu  membangun kerohanian siswanya maupun dirinya sendiri  dan megarahkan hidup manusia untuk memuji Allah dan berbakti kepadanya, karena mendapatkan  inspirasi dari  Roh Kudus.
Jiwa pengabdian dan pelayanan perlu dimiliki oleh semua orang beriman dalam rangka ikut ambil bagian dalam semua bidang pelayanan. Dengan memiliki jiwa pengabdian ia akan memiliki didikasi untuk melaksakan bagiannya dengan penuh kesungguhan dan tangungg jawab[10] Menanggapi pendapat tersebut  manusia khususnya guru agama kristen mampu untuk memberi tempat Roh Allah menguasai hidupnya, sehingga dalam hidupnya selalu mencerminkan spiritualitas Roh Kudus yang ditunjukan kepada semua orang dilingkungannya baik dirumah, di gereja  maupun di sekolah. Dengan demikian Roh Kudus mempunyai peran dan fungsi sangat penting dalam proses pembelajaran khususnya  pada seorang guru. Tulisan Andrew Murray yang dikutip  oleh Lois E Lebar bahwa kita menginginkan Roh Kudus menyatakan gagasan tentang bagimana Yesus akan ada bersama sama dan diam didalam  kita.[11]
Pandangan spiritual menurut Lidya Yulianti spiritualitas merupakan gaya hidup seorang guru PAK sebagai hasil pemahamannya tentang Allah secara utuh. Hal ini dikemukakan mengingat bahwa tugas mendidik bukanlah pekerjaan yang hanya bersifat teknis dan mekanistik. Guru dan peserta didik adalah insan yang memiliki aspek spiritual. Untuk itu spiritualitas guru PAK harus memiliki kepercayaan dan beriman kepada Tuhan Yesus, mengalami buah-buah iman, mengintegrasikan iman dalam kehidupan sehari-hari, mengupayakan pertumbuhan rohani, bertindak dan melayani.

Kekuatan Spiritual
Memiliki kekuatan spiritual yang membangkitkan profesionilme keguruan antara lain mampu bekerja dengan semangat kristiani di hadapan public tanpa malu dan ragu. Sebagai duta kristus ia terus belajar bertanggung jawab dan bersedia mengembangkan kulitas pelayanan. Tampil lebih berani mendemontrasikan gaya hidup dan gaya kerja yang khas.  Mampu belajar  dari peserta didik dari kekurangan dan kelebihyan mereka, kegagalan dankesuksesan mereka.

Memiliki Semangat Panggilan
Mampu menunjukan intergritas pribadi yang dapat mengasihi peserta didik melalui  pengajaran dan menegur peserta didiknya.( 1 Petrus 2:2-9; Markus 12:29-30. Memiliki komitmen menjadi sekerja Allah. Mampu mengajar satu dengan yang lain dengan pemdekatan orang perorang (Ibrani 8:11). Memiliki etos kerja sebagiai pendidik. Ulet dan tekum sebagai pendidik. Menjadi teladan bagi orang orang yang diajari. Mampu memberikan penafsiran terhadap Firman Tuhan, harus menerapkan prinsip prinsip hermeneutika oleh karena itu tidak boleh menafsirkan menurut kehendaknya sendiri. Mampu menyelesaikan suatau  masalah dengan berbagai alternative untuk menghindari verbalisme dan absolutism. Mampu memberikan alternative dalam memilih solusi untuk kelancaran proses pembelajran PAK dan peningkatan mutu PAK. Memiliki kekuatan spiritual yang membangkitkan profesionilme keguruan. Memiliki ke iklasaan dan ketulusan  dalam menjalankan fungsinya sebagai guru agama Kristen sesuai dengan peraturan  yang berlaku. Memiliki ke iklasaan dan ketulusan  dalam menjalankan fungsinya sebagai guru agama Kristen sesuai dengan peraturan yang berlaku. Fasih berbicara  (mampu mengkomunikasikan ajarannya (Kisah Rasul 18:24  dan cakap mengajar ( 2 Timotius: 2-2). Mampu menjalankan aturan dan kreteriayang telah ditetyapkan, tidak pilih kasih.

Yesus Juruselamat Pribadi Guru PAK
Alkitab menyebut tidak ada keselamatan di luar Yesus, karena Ia adalah Anak Allah satu-satunya yang dapat menyelamatkan.Yesus membuat hal itu menjadi sangat jelas, bahwa tidak seorang pun yang dapat datang kepada Allah, kecuali melalui-Nya. "Hal berikut yang harus  dimengerti tentang Yesus Kristus  yang dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan  oleh darah Maria, sengsara  dibawah pemerintahan Pontius Pilatius, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun dalam neraka, bangkit naik ke Surga, duduk disebalah kanan Bapa dan dating untuk yang kedu kalinya.[12] Sang mesias sebagai Juru Selamat ialah bahwa Yesus menyelamatkan manusia dari dosa melalui proses yang harus dialami oleh manusia yaitu pertobatan, hidup baru, dan pelayanan.

Pertobatan
Pembenaran oleh Iman sangatlah penting namum proses menuju pembenaran Iman menurut ajaran Reformasi sebagai berikut: “ pembenaran karena iman itu merupakan pokok utama, akan tetapi ada syarat  syarat yang harus digenapi pihak manusia yaitu pertobatan dan kelahiran kembali” [13]namun pada masa Ortodox pada abat ke 17 penyelamatan manusia dipandang suatu proses yang berangsur angsur yang peristiwa peristiwa dan keadaannya disistematiskan seperti ini panggilan, pencerahan, tobat, kelahiran kembali, pembenaran, persekutuan dengan Kristus, pembaharuan atau penyucian, pemuliaan, hidup kekal. Sedangkan Calvin tidak membuat urutan – urutan ysng harus dilalui, ia mengutamakan pembenaran karena iman merangkum segenap keselamatan yang dianugrahkan kepada manusia didalam Kristus. Masih menurut Calvin Pembenaran Iman adalah kelahiran kembali, pembaharuan hidup, ketaatan harus berjalan serempak, mengenai pertobatan, penyucian, kelahiran baru bukan merupakan suatu system, ia mengutip Roma 8:28-30 rasul Paulus tidak menetapkan system namun Allah setia kepada umat-Nya dan akan menyelamatkan pekerjaannya. Jadi pertobatan tidak begitu penting bagi Calvin karena pertobatan merupakan berpalingnya manusia kembali kepada Allah, mengubah cara hidup hanya memandang kepada Yesus Kristus.[14]  Pertobatan adalah soal yang mencakup kehidupan manusia secara total. Dalam perjanjian lama bertobat berarti berbalik, membalikan diri kearah yang sebaliknya. Istilah ini digunakan di dalam relasi manusia dengan Allah, bahwa di dalam pertobatan  manusia meninggalkan  apa yang Tuhan larang dan kembali melakukan apa yang Ia kehendaki.[15]   Inti garis besar Perjanjian Lama  dilanjutkan Yesus dengan menanbah tekanan bahwa pertobatan bukan prasyarat untuk memperoleh keselamatan, melainkan bahwa keselamatan adalah prasyarat yang mengakibatkan pertobatan.[16] Berbalik kepada Allah   berarti berbalik secara keseluruhan, bukan satu kesalehan yang legalsitik, yang mengantungkan keselamatan manusia pada pelaksanaan hukum hukum Allah akan menerima karunia Roh Kudus. Jadi jelaslah bahwa Roh Kudus diberikan kepada orang yang bertobat.[17] Dengan demikan ketika seorang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, ia diberi   Roh Kudus, dimateraikan.

Hidup Baru
Hidup baru dimulai dengan sebuah baptisan dengan mengaku percaya, maka berarti insaf dijadikan satu dengan Kristus bersama dengan kematianNya dan bangkit bersama Kristus yang merupakan kelahiran kembali untuk hidup baru. Karena sudah bersama dengan Kristus maka pengajaran_Nya bisa  menjadikan orang orang yang takut  memulikan Tuhan jadi meyembah Tuhan, mengakui Dia sebagai Mesias, memahami pengajarannya, mereka membawa sahabat-sahabat kepada Yesus, mengikuti Dia , menyebarkan kemasyhuran-Nya dan melayani Dia.[18]
Sijabat menulis bahwa:” Seorang guru kristen perlu menyadari bahwa peran Roh Kudus bukan hanya berlangsung dalam rangka pedewasaan iaman, peningkatan kualitas atau kesadaran akan kesucian hidup“[19] Sebagai Guru PAK selayaknya untuk meninggalkan kebiasan kebiasan yang dilakukan pada kehidupan sebelum pertobatan dan melakukan kehendak Kristus dan hidup baru bersama dengan Roh Kudus yang selalu menguasai hidupnya. Dengan demikian sebagai pengajar iman  Kristen sangatlah bergantung pada terhadap kuasa dan urapan dan kehadiran  Roh Kudus

Karya Roh Kudus
Karya Roh Kudus menurut Stevri Indra Lumintang yaitu menerapkan apa yang dikerjakan oleh Kristus dengan cara melahirkan membarukan dan menguduskan orang berdosa yang telah dipilih oleh Tuhan Allah.  Salah satu tujuan utama datangnya Roh Kudus ke dalam hidup orang-percaya itu untuk mengubah kehidupan manusia yang menjadi pilihan Allah. Menurut sumber yang sama kelahiran baru tidak bisa dipisahkan dengan pengudusan, karena keduanya merupakan dari dasar pembentukan rohani orang percaya, orang percaya tidak berhenti hanya pada kelahiran baru melainkan mengalami secara terus menerus  pengudusan yang dimulai pada saat kelahiran baru sampai mati.[20] Hasil pembentukan rohani orang percaya akan mengakibatkan bertumbuhnya kepribadiannya menuju menjadi seorang pemimpin karena peran guru salah satunya menjadi pemimpim dalam kelas. Menjadi pemimpin dalam kelas tugas guru ialah mengelola terjadinya peristiwa belajar. Rick Yount yang ditulis oleh Sijabat mengemukakan sebagai  guru mampu mengelola lingkungan kelas termasuk ruangan, sausana emosi yang nyaman serta relasi yang hangat dan bersahabat  dan mempunyai otoritas tanpa berprilaku otoriter.[21]  Peran Roh Kudus sangat berarti bagi guru  untuk dapat melakukan tugas sebagai pemimpin.

DAFTAR PUSTAKA
Agus M Hardjana, Spritulitas Kristen ( Jogakarta: Kanesius)
Alister Mc,Graht. Chistian Sprituality (Australia: Blackwall Publiser,2003)
Federans Ranada II , Teologi Proper (Manukwari:Erikson-Tritt Press, 2006)
Groome Thomas H. Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007)
Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003)
L.Sugiri ,dll, Gerakan Karismatik: Apakah Itu (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2006)

Lois E Lebar , Education that is Christian (Malang: Gandum Mas,2006)
Harun Hadiwijono, Iman Kristen,(Jakarta, BPK Gunung Mulia,2003)
Napel, Henk Len. Jalan yang lebih utama lagi,Etika Perjanjian Baru (Jakarta :BPK Gunung Mulia)
Niftrik,GC. Van &Boland, Dogmatika Masa Kini (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2008)
Sampitmo, Reader Kuliah S2 (Sidikalang: STTOI,2010)
Sijabat, Menjadi Guru Profesional (Jakarta:BPK  Gunung Muria,1994)
Simon Chan, Spritual Theogi, (Yogjakarta : Inter Varsity Pres, 2002)
Stephen Tong, Roh Kudus, Doa dan Kebagunan (Jakarta :Lembaga Refromed
Injili Indonesia, 1995)
Stevri Indra Lumintang, Theologia & Misiologia Refromed ( Batu: Dept Literatur,2006)

Tabita,chistiani, Pendidikan Anak (Jakarta:BPK Gunung Mulia,2002)
Wilfred J Samuel, Kristen Karismatik, ( Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007)


[1]Agus M Hardjana, Spritulitas Kristen (Jogakarta: kanesius) 64
[2]Alister Mc,Graht. Chistian Sprituality (Australia: blackwall Publiser,2003),2
[3]Wilfred J Samuel, Kristen Karismatik,( Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007),89
[4]Groome Thomas H. Pendidikan Agama Kristen,(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007),38
[5]Simon Chan, Spritual Theogi, (Yogjakarta : Inter Varsity Pres,2002), 14-16
[6]Federans Ranada II , Teologi Proper (Manukwari:Erikson-Tritt Press, 2006),51-64
[7] Harun Hadiwijono,Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003),90-91.
[8]Ibid, 325.
[9]L.Sugiri ,dll, Gerakan Karismatik: Apakah Itu (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2006), 164
[10]Tabita,chistiani, Pendidikan Anak (Jakarta:BPK Gunung Mulia,2002),128
[11]Lois E Lebar , Education that is Christian (Malang: Gandum Mas,2006).355-252
[12]Harun Hadiwijono, Iman Kristen,(Jakarta, BPK Gunung Mulia,2003),328-343
[13]Niftrik,GC. Van &Boland, Dogmatika Masa Kini ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2008), 488
[14]Ibid, 489-493
[15]Napel, Henk Len. Jalan yang lebih utama lagi,Etika Perjanjian Baru (Jakarta :BPK Gunung Mulia,),21
[16] Ibid, 53
[17]Stephen Tong, Roh Kudus, Doa dan Kebagunan (Jakarta :Lembaga Refromed Injili Indonesia, 1995), 72
[18]Lois E Lebar, Education That Is Chritian (Malang :Gandum Mas, 2006),166
[19]Sijabat, Menjadi Guru Profesional ( Jakarta:BPK  Gunung Muria,1994  ),37
[20]Stevri Indra Lumintang, Theologia & Misiologia Refromed ( Batu: Dept Literatur,2006), 234
[21]Sampitmo, Reader Kuliah S2 ( Sidikalang: STTOI,2010),4

Komentar